it reminds me of you
purnama di utara
hembusan angin menerpa anak rambut di dahi
debur ombak di pantai
favorite poem - 2
|
More options | Jun 15 | |||
kusimpan setiap remah rinduagar angin tak menyapu
kurekat patahanpatahan mimpiberlanjut dari satu malam ke malam lain
kujalin batangbatang asa yang tumbuh suburdi selip jiwa
kurangkai bungabunga asmaradalam vas kaca birujingga
kurenda waktutuk setia menanti
di sini
*ujarmu,"tunggu keajaiban . . ."*
mimpi
andai dapat kurangkai mimpikan ku semat setiap malamsebuah cerita indahbersanding bersama bulandikelilingi bintang bintangdiselimuti awandi indah kegelapan
5 juni 2006
|
More options | Jun 5 | |||
hei . .
hei pagijangan tertunduk diamnyanyikanlah lagusyairkanlah gurindamhibur akutuk hapus rindu yang semakin dalam
*selamatpagijiwaningsungkangmas,pripunkabare?23mei06-07.50.00*
. . mu
menantimu
di ruang tunggu tanpa batas waktu
bulan menatap senja
di tepian ia berdiri
bersidekap ditemani hembusan angin
menanti luruh mentari
membiarkan senja beranjak
bulan bersiap
dikenakan jubah peraknya
"malam, aku datang. . "
dan
lengannya merentang . .
*inspirasi dari foto ‘ji menatap senja di bali . . indah dan dalem banget. . *
matirasa
entah
apanamanya
sebuah hambar
yang tibatiba ada
tak bisa merasa
tak peka
tak mengerti harus bagaimana
ini mengapa?
*aku dan milla. .sama2matirasa?*
belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang
dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil
segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil
segelas air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu
diaduknya perlahan.
"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke
tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan
dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampainya disana,
Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dgn
sepotong kayu
ia mengaduknya.
"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk
air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.
"Tidak" sahut pemuda itu.
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan
baik-baik.Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit
ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan
memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan
dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan
kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan;
lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu."
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : "Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung
segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."
Karena Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang?
Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.
Sumber : Anonimous
(. . di-copy- dari multiply mas epri. . ma kasih ya. . means a lot. . )