pradnyaparamita

September 30th, 2006

ah,

Posted by pradnyaparamita in puisi
ah, bulan. .
aku kan tak mampu mengira
ataupun membaca tatapan matamu
secara ada jarak dan jeda
tentang adakah sebentuk rindu di sana
kutanya jadinya
dan
"nda tahu . ." jawabnya
ah,
kecewa. .
September 30th, 2006

it reminds me of you

Posted by pradnyaparamita in puisi
aroma tanah basah usai hujan
purnama di utara
hembusan angin menerpa anak rambut di dahi
debur ombak di pantai
. . .mengingatkanku padamu
September 29th, 2006

favorite poem - 2

Posted by pradnyaparamita in puisi
untuk mu   

pradnya paramita 
to bungamatahari
More options   Jun 15
kusimpan setiap remah rindu
agar angin tak menyapu
kurekat patahanpatahan mimpi
berlanjut dari satu malam ke malam lain
kujalin batangbatang asa yang tumbuh subur
di selip jiwa
kurangkai bungabunga asmara
dalam vas kaca birujingga
kurenda waktu
tuk setia menanti
di sini
*ujarmu,"tunggu keajaiban . . ."*
-pecintabulan dan pemimpisejati-
September 29th, 2006

mimpi

Posted by pradnyaparamita in puisi
andai dapat kurangkai mimpi
kan ku semat setiap malam
sebuah cerita indah
bersanding bersama bulan
dikelilingi bintang bintang
diselimuti awan
di indah kegelapan
*untukmu ‘ji . . pagi ini . .tentang keajaiban pun mimpi. . missubanget!*
-pecintabulan dan pemimpisejati-
9/06/06 - 08.30
September 29th, 2006

5 juni 2006

Posted by pradnyaparamita in puisi
rumus jatuh cinta   Inbox
pradnya paramita 
to bungamatahari
More options   Jun 5
awalnya dari mata
turun ke hati
mata berkata tidak
hati menolak mentah
mata bersinyal ya
hati berwarna merah muda
rumusnya bekerja
*hayyyah. . begitukah?*
-pecintabulan dan pemimpisejati-
September 29th, 2006

hei . .

Posted by pradnyaparamita in puisi
hei pagi
jangan tertunduk diam
nyanyikanlah lagu
syairkanlah gurindam
hibur aku
tuk hapus rindu yang semakin dalam
hei angin
berhentilah menghembus dingin
temani sejenak di sini
berdiang di bawah api
sebelum beranjak menjelajah hari
biar aku tak sendiri
memulai satu jeda lagi
*selamatpagijiwaningsungkangmas,pripunkabare?23mei06-07.50.00*
-pecintabulan dan pemimpisejati-
(posting di buma 23 mei 2006)
September 29th, 2006

. . mu

Posted by pradnyaparamita in puisi

menantimu

di ruang tunggu tanpa batas waktu

menghimpun setia dalam ragu
adakah terwujud harap dan rindu
menantimu,
palingkan hatimu
meniti sisa usia bersamaku
-pecintabulan dan pemimpisejati-
(posting di buma 22 mei 2006)
September 29th, 2006

bulan menatap senja

Posted by pradnyaparamita in puisi

di tepian ia berdiri

bersidekap ditemani hembusan angin

menanti luruh mentari

membiarkan senja beranjak

bulan bersiap

dikenakan jubah peraknya

"malam, aku datang. . "

dan

lengannya merentang . .

*inspirasi dari foto ‘ji menatap senja di bali . . indah dan dalem banget. . *

September 26th, 2006

matirasa

Posted by pradnyaparamita in puisi

entah

apanamanya

sebuah hambar

yang tibatiba ada

tak bisa merasa

tak peka

tak mengerti harus bagaimana

ini mengapa?

*aku dan milla. .sama2matirasa?*

September 26th, 2006

belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik

Posted by pradnyaparamita in bahasan bagus

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang
dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil
segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil
segelas air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu
diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke
tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan
dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampainya disana,
Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dgn
sepotong kayu
ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk
air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar", sahut si pemuda.

"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.

"Tidak" sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan
baik-baik.Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit
ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan
memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan
dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan
kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan;
lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu."

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : "Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung
segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."

Karena Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang?
Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.

Sumber : Anonimous

(. . di-copy- dari multiply mas epri. . ma kasih ya. . means a lot. . )

Next Page »