from milla with her “cadas”..TOB!
Kita simpan saja baik-baik rindu itu
Agar ketika kita inginkan ia hadir lagi nanti, rindu itu masih berseri.
Nanti. Apakah rindu akan berarti?
Sore itu kita bertemu. Duduk berhadapan. Setelah sekian lama waktu dan jarak tergantang. Dan kita saling bicara. Dalam hati.
“Apa kabarmu? Lama tak bertemu.”
“Aku baik-baik saja”, walau tidak bahagia.
Lalu sunyi lagi berdengung. Memepat kata-kata.
“Kau menulis, sekarang?”
“Ya, seperti dulu dirimu”, yang tak pernah ingin aku tahu.
“Itukah buku yang kau tulis?”
“Bukan” Bukan. Ini buku yang pernah kita tulis tanpa kita sadari.
Kau lihatlah buku ini. Bukalah lembar demi lembarnya. Ada kenangan tentang kita di sana serupa kumpulan naskah, dan setiap helai mulai menguning. Dapatkah kau baca? Dapatkah kau tangkap rasa? Apakah rindu tertulis? Rindu.ahh.. entah untuk apa.
Bila telah habis kau baca, kau temukanlah lembar-lembar kosong di paling belakang. Pernah kau pikirkah, mengapa ada buku yang meninggalkan lembar-lembar kosong setelah cerita berakhir?
Untuk apa kau ada di sini?
Kepedihan? Kekalahan?
Kita buang saja buku ini. Bagaimana menurutmu?
Atau kita lanjutkan kisah kita di lembar-lembar kosong belakang buku itu?
Atau kita ambil buku kosong yang lain saja?
Atau kita curi buku milik orang lain dan kita coret-coret muka kita di lembar-lembar kosong mereka? Kau tahu rasanya, bukan? Itu sebab kau ada di sini.
Malam mengendap-endap turun. Kitapun lalu punah. Karena yang duduk berhadapan sejak sore di situ, hanya bayangan.
kemudian kau gumpalkan ia. rindu itu.
bulat-bulat
telanjang di dalam hatimu
penabuluangsa,
13Nov06